Selasa, 24 Maret 2015



MENELUSURI JEJAK YANG HILANG
(SEBUAH TESTIMONI TERHADAP SUNGAI MANDAR)

Raiq (rakit) dalam Buku 

LontarakPattodiolong di Mandar 1

 

Sebuah pesan datang dari negeri nun jauh disana

Ketika elang pengelana menemukan benda terapung ditengah lautan
Disambarnya dan dibawa ke hadapan raja
Wahai cerdik pandai benda apa ini gerangan ?? tanya raja
Benda ini adalah barakkaq persembahan paqbanua mandar yang diantarkan ke Sungai
Dari mana engkau tahu bahwa benda ini datang dari tanah mandar !!!
Ampun tuanku sekitar ratusan tahun yang silam,  benda yang samapun pernah tertulis dalam rekaman sejarah. Namun saya melihat ada sedikit yang lain,  Sebab persembahan yang sampai disini ditutupi rumput,  ranting kayu dan banyak titik debu..
sungai mandar TERCEMAR.....  

Air secara khusus Sungai merupakan suatu lingkungan yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Sehingga tidak heran, jika para pemikir mengambil unsur air ini sebagai salah satu elemen yang menjadi unsur dasar yang mendukung kehidupan manusia selain  udara. Penelitian jejak prasejarahpun menjadikan sungai sebagai salah satu rujukan untuk menelusri pola kehidupan pada masa lalu. Demikian kuat posisi air dalam kehidupan manusia, sebuah ungkapan menyampaikan, Anda bisa hidup selama berminggu-minggu tanpa makanan namun anda tidak bisa bertahan hidup beberapa saat saja tanpa air. Sungai, muara, teluk, laut samudera telah memiliki peran yang signifikan. Selain mengandung keindahan, sejarah masuknya peradaban pada sebuah tempat, Air memiliki kemampuan menjadi cair, beku bahkan menjadi gas. Sebuah anugerah yang jarang dimiliki oleh unsur lainnya.
Era 1989 sampai 90an, bahkan mungkin sampai sekarang,  SDN 001 dan 002 Tinambung, lapangan Tinambung, dan Masjud al-Churiyah Tinambung merupakan pusat kegiatan lomba dalam merayakan hari ulang tahun Republik Indonesia di lingkungan Kecamatan Tinambung. Pada masa itu, seluruh peserta didik (murid) seantero Tinambung diberi kesempatan untuk ikut bertanding atau hadir sebagai supporter di berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Ada cabang olahraga, cerdascermat, tari-tarian, pawai, gerak jalan, shalat jama’ah, berkemah dan lain-lain.
Disela-sela kegiatan itu berbekal Rp.100 rupiah mengelilingi pasar tinambung dan singgah disalah satu pusat pertokoan yang menjual mata pancing. Meloa maalli peang puang (saya inign membeli matapancing puang ) untuk dipakai di sungai mandar dan sainci tasi. Sekedar informasi didepan pertokoan pasar Tinambung merupakan tempat berkumpulnya puluhan kendaraan tradisional, bendi (dokar) dari berbagai penjuru. Dokar dari Kandemeng, Lamasariang, Karama, Lemosusu, Limboro  dan lain-lain. Sehingga tidak heran aroma awang (dedak padi) dan batang jagung khas makanan kuda merupakan atmosfir yang sangat familiar. Ada juga konser paqbalu paoli (pejual obat) dengan fans militannya, dihantam lagi dengan penjual kaset dengan tema lagu lokal , Malaysia, Hongkong  dan India tentunya  entah apa maknanya yang jelas booming juga pada saat itu.
Mencari appang (umpan) untuk memancing, ex pasar ikan Tinambung merupakan opsi tunggal. Menelisik sisa potongan toppa (ikan tongkol) atau udang kecil yang tercecer disela-sela bangku paoyobau (tukang potong ikan) merupakan seni tersendiri. Tidak jarang pula merogoh kocek meski saya tahu penjual ikan di Tinambung tidak akan mengambil uang kami, bahkan diberi appang (umpan) gratis oleh penjual ikan. Mungkin wajah kami pada saat itu sangat  dini atau boleh jadi penjual ikan tersebut sementara mentransfer pendidikan karakter kepada kami melalui media dunia nonformal.

 G-spot memancing favorit terbagi dua. Pertama kolong jembatan matoa (tua) dekat tanggul dan pembuangan sampah. Kedua adalah kolong jembatan baru (dekat penjual ex  Pasar Ikan Tinambung) plus penjual nasi kuning dan jajanan kue tradisional. Selain tempatnya teduh tidak perlu pula membuang mata pancing begitu jauh.  Berkah dari potongan ikan tersebut kami pernah mendapat berbagai ikan segar  dengan ukuran besar seperti samelang (sejenis ikan lele), buttal (ikan fugu), Lendrong (sejenis belut). Jenis ikan paling mayoritas didapat yakni ikan kalairo. Ada pelajaran menarik yakni selama saya ini memancing di rawa-rawa dengan kondisi arus tenang dengan menggunakan sepotong bambu plus potongan sandal atau filter rokok sebagai pappaottong (pemberat). Ternyata ini tidak berlaku di arus deras seperti di sungai mandar,  sebab umpan akan mengapung dan ikan tidak tergiur. Akhirnya mendapat kursus singkat dari pemancing lainnya, harus menggunakan bahan berat. Sisa-sisa pecahan besi seperti paku, ring sekerup atau sekerup jembatan yang rontok dan karatan merupakan alternatif pada saat itu. Dan byurrr.. umpanpun siap disajikan didalam sungai.
Banrong Festival Sungai Mandar 2015 

Di lokasi lain,  tepatnya di Teppo Desa Lembang-lembang masih satu muara dengan sungai mandar, ikan kasisi/balanak  dan udang yang biasa menghiasi kandoang (bakwan)  sangat mudah didapatkan. Berbekal rakitan boco kenu (kelambu rusak) atau alat lainnya, hanya butuh setengah jam, mamoko (mencari ikan dengan cara manual dan alat seadanya) kita sudah bisa pulang membawa setengah ember udang-udang kecil. Beberapa waktu juga ternyata sungai ini merupakan tempat favoritnya anak-anak bantaran sungai menunjukkan kebolehannya. Ada yang naik berlari di atas rangka jembatan pada saat jalan-jalan subuh bulan Ramadhan dan paling ekstrim adalah loncat indah dari jembatan ke dalam sungai. Mandi sore di bulan Ramadhan di sungai mandar memiliki kesan tersendiri.  Meski sebagian penceramah setiap hari, menyampaikan bahwa hal tersebut hukumnya makruh sebab air tersebut bisa masuk ketenggorokan via telinga, mulut atau hidung namun “mungkin” karena jiwa kami masih anak-anak atau mungkin kami berasal dari nutfah  atau air kehidupan dan pernah mukim selama berbulan-bulan dalam lingkunngan air di pagari kokohnya rahim seorang ibu, penyampaian tersebut kami simpan dan menjadi khazanah tersendiri. Terkadang perahu nelayan yang sementara parkir menjadi tempat sasaran take-on yang menggiurkan. Tak ayal diri menjadi sasaran ceramah singkat dan pencerhan dari pemilik perahu tersebut. 

Meski jarang didapatkan kasus masyarakat bantaran sungai mandar terserang penyakit,  stamina sungai mandar sebagai fondasi kehidupan pada saat itu masuk dalam status mengkhawatirkan. Sadar atau tidak, kegiatan keseharian mandi, mencuci, sikat gigi, buang air kecil,air besar semuanya menjadi pemandangan yang yang sangat lazim. Kolong jembatan tua merupakan tempat berkumpulnya sampah. Paling memilukan dan memalukan sampai sekarang hal ini tetap berlanjut dengan kapasistas yang kurang lebih sama. Selain menyandang gelar sebagai sungai legendaris dalam ketiak sejarah dan kehidupan masyarakat mandar sungia tersebut juga menjadi kuburan massal yang tak bertepi, tempat pembuangan awal (TPA) puluhan jenis sampah, tempat bangkai hewan dari ukuran anak ayam sampai kuda setia mengalir bersama najis lainnya. Masyarakat dan unsur pemerintahan masih mencari solusi yang entah sampai kapan dan juga belum punya opsi lain yang tegas dan lebih ramah lingkugan dalam mengelola sampah. Sekadar informasi penulis pernah melihat pengendara motor di pagi hari menjatuhkan kantongan berisi sampah le sungai mandar. belum lagi di malam hari. Hal ini mengindikasikan sungai ini telah fungsinya menanggung beban yang  teramat berat. Hewan saja yang tidak punya akal dari zaman prasejarah hingga pasca modern sekarang ini tidak pernah melakukan hal yang merusak keseimbangan alam, namun manusia yang berakal sanggup melakukannya. Siapa lagi...
Sisi lain, masyarakat Mandar masih memiliki kepercayaan bahwa sungai tersebut memiliki unsur supranatural yang hanya bisa dipercakapkan secara khusus. Cerita tentang manusia kembar dengan penguasa air, situs batu meanaq (batu berkembangbiak) berbagai pamali (pantangan) dan keampuhan sungai tersebut mengobati berbagai penyakit merupakan kjazanah tersendiri dan masih diyakini oleh masyarakat hingga saat ini. Sebuah cerita, ketika pengikisan daratan telah terjadi dibantaran sungai Mandar, batu besar satu persatu dihadirkan untuk menyapa sungai mandar, tiba-tiba tukang yang bekerja di sungai mandar terserang kejadian menyeramkan yang membuatnya terbaring sakit. Setelah ditelusuri ternyata salah satu batu yang diturunkan ke sungai mandar telah menutupi pintu rumah penghuni halus sungai tersebut. Dialog mistik dan diskusi indera keenampun dilakukan, pekerja tersebut mengiyakan dan memindahkan batu tersebut dan sehat seperti sedia kala. Boleh jadi penduduk asli inipun menggugat pemerintah dan masyarakat bukan hanya pada pekerja batu namun pada siapa saja yang mencoba melakukan pencemaran dan pengrusakan ekosistem sungai.
Sekiranya anak-anak  di Mandar khususnya bantaran sungai Mandar,  lebih suka memancing di dalam bilik kamar dan di sungai  4 dimensi dan memperoleh berbagai ikan imajinatif lewat aplikasi gadget, tablet, android dan lain-lain maka saat ini langkah preventif dan pelestarian terhadap “jiwa maritim dan budaya” generasi muda mandar merupakan tantangan sekaligus potensi yang perlu mendapat perhatian serius oleh pihak pemerintah dan paqbanua (masyarakat). Adakah kini, kita bisa mendapatkan seekor ikan di sungai Mandar ?? Biarlah masyarakat mandi sepuasnya tanpa harus menuruni tangga beton dari marmer serta hingar bingar lampu hias yang entah diperuntukkan untuk siapa atau anak kecil yang muncul disemak belukar mencari ikan dan udang-udang kecil dipinggir kanal tanpa harus diusik dengan terusik dengan hadirnya tembok tanggul setengah jadi, tempat muda mudi merajut asa dan menikmati mentari yang kembali ke peraduannya dan kehadiran pemadangan horor yang berhamburan dimana-mana. Kembalikan sungai mandar seperti sedia kala. Jantung sejarah, sumber kehidupan masyarakat dan tentunya milik untuk mereka yang memiliki kesadaran. Mari belajar dari air agar kita bisa menempatkan diri kapan menjadi cair, beku serta uap serta bermanfaat bagi alam semesta. Akulah sungai dan engkaulah  Mandar.
Sisi Sungai Mandar dengan pemandangan yang Asri, Sepa Batu Tinambung Polewali Mandar

 24 Feb 2015 Makassar                                                                                      
Gambar 1 lustrasi alat Transportasi Rakit dalam Buku Lontaraq Pattodioloang I
Gambar 2 Tiang Panggung Banrong Festival Sungai Mandar  2015 Tinambung, Maret 2015
Gambar 3 Perahu Nelayan di seberang Sepa Batu Tinambung Polewali Mandar, Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar