Senin, 07 Agustus 2017



Sandeq Paniq Juara 1 Lomba Layang-layang tingkat Nasional
(Ketika maha karya dari Mandar terbang di langit  Banjarmasin) 

J
auh dalam rimbunan hikayat dan kisah peradaban ummat manusia, budaya dan berbagi tradisi merupakan kondisi yang akan selalu mengiringi setiap lembaran kisahnya. Sulawesi Barat dengan kondisi alam yang beragam laut, darat, pegunungan akan melahirkan berbagai adat yang menggambarkan betapa eratnya genggaman lingkungan tersebut dengan masyarakat Mandar. 
 

Selain perahu sandeq yang cukup legendaris saat ini, ada juga maha karya lain yang tidak kalah monumentalnya dan selalu menghiasi horizon Sulawesi Barat itulah layang-layang. Layangan yang dimaksud adalah Sandeq paniq kerabat dari layang lake dan ada juga yang menyebutnya layang bulan. Jenis layang-layang merupakan beberapa permainan tradisional yang mudah didapatkan di Mandar. 
Layang  sandeq paniq  (sayap runcing) merupakan layang tradisional yang mampu terbang dalam kondisi kecepatan angin beragam. Sedangkan lake memerlukan hembusan angin dengan kecepatan cukup.  Hal ini disebabkan ukuran lake cukup kaiyyang (bongsor) dan dipersenjatai dengan busor (busur berdawai) yang mengeluarkan alunan suara khas. Keindahan lake terlihat pada ekornya yang memiliki corak (pata). Corak yang paling sederhana adalah pata teppas, pata cidzuq, bahkan sampai pata pohon beringin, dan berbagai pata lainnya. Bentangan sayap lake bisa mencapai 3 meter dan ukuran ulunna (kepala) sampai lelok (ekor) mencapai 6 meter. Dengan kondisi demikian sangat memungkinkan lake sanggup mengudara 1 sampai 2 x 24 non stop.

Sedangkan bentuk sandeq paniq ramping, bentangan sayap lebar dan runcing dengan lelo’ (ekor) yang terurai.. Tahun 1989 sandeq pani’ pernah mengudara dan bertarung dengan kontestan dari provinsi lain di langit Banjarmasin.  Menurut ungkapan seorang peserta dari Matakali, sande paniq asal Mandar, mewakili provinsi Sulawesi Selatan dalam kontes layang tradisional dan menyabet juara satu sebagai layang-layang terbaik tingkat nasional pada saat itu. 
Hampir mirip dengan keikutsertaan sandeq ke Festival Maritim Brest Perancis tahun 2011, sandeq paniq di rakit di Banjarmasin dengan jumlah tim sebanyak 4 (empat) orang dengan keahlian masing-masing dengan material dari Mandar.  
Sandeq pani’ mampu mencapai sudut terbang tegak 87 sampai dengan 95 derajat. Kemampuan ini sangat jarang dimiliki oleh layang-layang di daerah  lain.  Bahkan yang paling membuat terkesima para dewan juri, peserta dan penonton pada saat itu adalah manuver meamanus-manus (turun dengan ketinggian sangat rendah) dekat dengan permukaan laut sebab lokasi kontesnya di pinggir pantai dan tiba-tiba mampu kembali menukik tinggi ke udara. Kemampuan ini sangat identik dengan aksi manuver patukan kobra (manuver Pugachev's Cobra) pesawat tempur mutakhir buatan Rusia SU-37 Terminator. 
 Alhasil 3 buah sandeq paniq iboyong keluar negeri oleh seorang turis mancanegara. Kalau kontes seperti ini ini dilaksanakan di Sulawesi Barat penulis yakin jumlah peserta akan membludak sebab mayoritas anak-anak generasi muda maupun generasi yang lebih senior menggandrungi kegiatan tersebut. Generasi dari sandeq pani’q masih mudah di dapatkan di langit Tonro Lima, Matakali, Tinambung dan berbagai daerah di Mandar. Ketika festival berlau Sandeq paniq akan diistirahatkan di atas palpon rumah, sampai tiba saatnya untuk berlaga kembali. Kalau ingin menikmati dan melihat layang-layang tersebut berkunjunglah ke Mandar pada bulan Agustus s.d. Nopember dan bawa kamera dan handycam untuk mengabadikan momen-momen indah bersama layang-sandeq paniq lake, bulang, warisan dan berbagai maha karya dari tanah mandar. (mq)

Senin, 13 Juli 2015



"Walet"  Manuq-manuq dewata

di kolong langit  Sulawesi Barat 




Istilah dewata merupakan istilah yang sangat familiar dalam keseharian masyarakat indonesia. Bahkan di luar negeri, nama pulau dewata lebih ranum dibanding ibu kandungnnya Indonesia. Dewa dalam segala rupa, dewa  dalam  media mahluk bahkan kediaman dewa pada tempat tertentu. Meskipun memiliki domain yang sama, namun antara bilik masyarakat yang berada di timur dan di barat masih terdapat keragaman dalam memahami dan menempatkan posisi dewa. Selain burung cendrawasih, diantara sekian mahluk mitology yang pernah  bersarang dalam lembaran sejarah, terdapat juga spesies burung dengan posisi istimewa yang mampu membuat tergiur manusia yakni manuq-manuq dewata (walet).



Sepanjang jalan trans Sulawesi tepatnya di pasa Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar, ditengah aktifitas masyarakat dipagi hari, disaat itu pula akan tampak di garis langit aktifitas hiruk pikuk mahluk lain. Puluhan bahkan ratusan burung walet (dewata) dengan aktifitas kesehariannya beterbangan di udara. Terbang membentang langit dan pulang ke peraduan di senja hari. Namun sebuah etape kehidupan lain terjadi disana. Sebuah Bangunan dengan gaya futuristik merupakan rumah bagi ratusan walet. Bangunan tersebut telah beralih fungsi dari tiang beton tempat manusia beraktifitas, kini menjadi hutan tanpa daun dan tentunya tanpa desir sungai tempat kediaman burung walet melewati hari-harinya. 


Jika dilihat dari berbagai sudut maka tempat tersebut boleh jadi menjadi tempat yang bernilai komersial, observasi, penelitian pendidikan, hunting foto bahkan destinasi baru dalam memperkenalkan keaneka ragamana hayati di Sulawesi Barat.
Saat ini keberadaan rumah di wilayah tersebut bagi walet masih dalam toleransi, mengingat jumlah bangunan masih sedikit dan dampak negatif dari keberadaaan burung walet tersebut seperti suara yang bising atau riwayat penyebaran penyakit seperti virus atau laiinya juga belum ada terdeteksi.


Sampai nanti, dia tidak akan pernah tahu...bagaimana awal kedatangannya dan bagaimana burung karang ini betah tinggal bersama saudara kosmiknya, manusia ?? dan mungkin manuq-manuq dewata memang tidak perlu tahu..

Selasa, 24 Maret 2015



MENELUSURI JEJAK YANG HILANG
(SEBUAH TESTIMONI TERHADAP SUNGAI MANDAR)

Raiq (rakit) dalam Buku 

LontarakPattodiolong di Mandar 1

 

Sebuah pesan datang dari negeri nun jauh disana

Ketika elang pengelana menemukan benda terapung ditengah lautan
Disambarnya dan dibawa ke hadapan raja
Wahai cerdik pandai benda apa ini gerangan ?? tanya raja
Benda ini adalah barakkaq persembahan paqbanua mandar yang diantarkan ke Sungai
Dari mana engkau tahu bahwa benda ini datang dari tanah mandar !!!
Ampun tuanku sekitar ratusan tahun yang silam,  benda yang samapun pernah tertulis dalam rekaman sejarah. Namun saya melihat ada sedikit yang lain,  Sebab persembahan yang sampai disini ditutupi rumput,  ranting kayu dan banyak titik debu..
sungai mandar TERCEMAR.....  

Air secara khusus Sungai merupakan suatu lingkungan yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Sehingga tidak heran, jika para pemikir mengambil unsur air ini sebagai salah satu elemen yang menjadi unsur dasar yang mendukung kehidupan manusia selain  udara. Penelitian jejak prasejarahpun menjadikan sungai sebagai salah satu rujukan untuk menelusri pola kehidupan pada masa lalu. Demikian kuat posisi air dalam kehidupan manusia, sebuah ungkapan menyampaikan, Anda bisa hidup selama berminggu-minggu tanpa makanan namun anda tidak bisa bertahan hidup beberapa saat saja tanpa air. Sungai, muara, teluk, laut samudera telah memiliki peran yang signifikan. Selain mengandung keindahan, sejarah masuknya peradaban pada sebuah tempat, Air memiliki kemampuan menjadi cair, beku bahkan menjadi gas. Sebuah anugerah yang jarang dimiliki oleh unsur lainnya.
Era 1989 sampai 90an, bahkan mungkin sampai sekarang,  SDN 001 dan 002 Tinambung, lapangan Tinambung, dan Masjud al-Churiyah Tinambung merupakan pusat kegiatan lomba dalam merayakan hari ulang tahun Republik Indonesia di lingkungan Kecamatan Tinambung. Pada masa itu, seluruh peserta didik (murid) seantero Tinambung diberi kesempatan untuk ikut bertanding atau hadir sebagai supporter di berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Ada cabang olahraga, cerdascermat, tari-tarian, pawai, gerak jalan, shalat jama’ah, berkemah dan lain-lain.
Disela-sela kegiatan itu berbekal Rp.100 rupiah mengelilingi pasar tinambung dan singgah disalah satu pusat pertokoan yang menjual mata pancing. Meloa maalli peang puang (saya inign membeli matapancing puang ) untuk dipakai di sungai mandar dan sainci tasi. Sekedar informasi didepan pertokoan pasar Tinambung merupakan tempat berkumpulnya puluhan kendaraan tradisional, bendi (dokar) dari berbagai penjuru. Dokar dari Kandemeng, Lamasariang, Karama, Lemosusu, Limboro  dan lain-lain. Sehingga tidak heran aroma awang (dedak padi) dan batang jagung khas makanan kuda merupakan atmosfir yang sangat familiar. Ada juga konser paqbalu paoli (pejual obat) dengan fans militannya, dihantam lagi dengan penjual kaset dengan tema lagu lokal , Malaysia, Hongkong  dan India tentunya  entah apa maknanya yang jelas booming juga pada saat itu.
Mencari appang (umpan) untuk memancing, ex pasar ikan Tinambung merupakan opsi tunggal. Menelisik sisa potongan toppa (ikan tongkol) atau udang kecil yang tercecer disela-sela bangku paoyobau (tukang potong ikan) merupakan seni tersendiri. Tidak jarang pula merogoh kocek meski saya tahu penjual ikan di Tinambung tidak akan mengambil uang kami, bahkan diberi appang (umpan) gratis oleh penjual ikan. Mungkin wajah kami pada saat itu sangat  dini atau boleh jadi penjual ikan tersebut sementara mentransfer pendidikan karakter kepada kami melalui media dunia nonformal.

 G-spot memancing favorit terbagi dua. Pertama kolong jembatan matoa (tua) dekat tanggul dan pembuangan sampah. Kedua adalah kolong jembatan baru (dekat penjual ex  Pasar Ikan Tinambung) plus penjual nasi kuning dan jajanan kue tradisional. Selain tempatnya teduh tidak perlu pula membuang mata pancing begitu jauh.  Berkah dari potongan ikan tersebut kami pernah mendapat berbagai ikan segar  dengan ukuran besar seperti samelang (sejenis ikan lele), buttal (ikan fugu), Lendrong (sejenis belut). Jenis ikan paling mayoritas didapat yakni ikan kalairo. Ada pelajaran menarik yakni selama saya ini memancing di rawa-rawa dengan kondisi arus tenang dengan menggunakan sepotong bambu plus potongan sandal atau filter rokok sebagai pappaottong (pemberat). Ternyata ini tidak berlaku di arus deras seperti di sungai mandar,  sebab umpan akan mengapung dan ikan tidak tergiur. Akhirnya mendapat kursus singkat dari pemancing lainnya, harus menggunakan bahan berat. Sisa-sisa pecahan besi seperti paku, ring sekerup atau sekerup jembatan yang rontok dan karatan merupakan alternatif pada saat itu. Dan byurrr.. umpanpun siap disajikan didalam sungai.
Banrong Festival Sungai Mandar 2015 

Di lokasi lain,  tepatnya di Teppo Desa Lembang-lembang masih satu muara dengan sungai mandar, ikan kasisi/balanak  dan udang yang biasa menghiasi kandoang (bakwan)  sangat mudah didapatkan. Berbekal rakitan boco kenu (kelambu rusak) atau alat lainnya, hanya butuh setengah jam, mamoko (mencari ikan dengan cara manual dan alat seadanya) kita sudah bisa pulang membawa setengah ember udang-udang kecil. Beberapa waktu juga ternyata sungai ini merupakan tempat favoritnya anak-anak bantaran sungai menunjukkan kebolehannya. Ada yang naik berlari di atas rangka jembatan pada saat jalan-jalan subuh bulan Ramadhan dan paling ekstrim adalah loncat indah dari jembatan ke dalam sungai. Mandi sore di bulan Ramadhan di sungai mandar memiliki kesan tersendiri.  Meski sebagian penceramah setiap hari, menyampaikan bahwa hal tersebut hukumnya makruh sebab air tersebut bisa masuk ketenggorokan via telinga, mulut atau hidung namun “mungkin” karena jiwa kami masih anak-anak atau mungkin kami berasal dari nutfah  atau air kehidupan dan pernah mukim selama berbulan-bulan dalam lingkunngan air di pagari kokohnya rahim seorang ibu, penyampaian tersebut kami simpan dan menjadi khazanah tersendiri. Terkadang perahu nelayan yang sementara parkir menjadi tempat sasaran take-on yang menggiurkan. Tak ayal diri menjadi sasaran ceramah singkat dan pencerhan dari pemilik perahu tersebut. 

Meski jarang didapatkan kasus masyarakat bantaran sungai mandar terserang penyakit,  stamina sungai mandar sebagai fondasi kehidupan pada saat itu masuk dalam status mengkhawatirkan. Sadar atau tidak, kegiatan keseharian mandi, mencuci, sikat gigi, buang air kecil,air besar semuanya menjadi pemandangan yang yang sangat lazim. Kolong jembatan tua merupakan tempat berkumpulnya sampah. Paling memilukan dan memalukan sampai sekarang hal ini tetap berlanjut dengan kapasistas yang kurang lebih sama. Selain menyandang gelar sebagai sungai legendaris dalam ketiak sejarah dan kehidupan masyarakat mandar sungia tersebut juga menjadi kuburan massal yang tak bertepi, tempat pembuangan awal (TPA) puluhan jenis sampah, tempat bangkai hewan dari ukuran anak ayam sampai kuda setia mengalir bersama najis lainnya. Masyarakat dan unsur pemerintahan masih mencari solusi yang entah sampai kapan dan juga belum punya opsi lain yang tegas dan lebih ramah lingkugan dalam mengelola sampah. Sekadar informasi penulis pernah melihat pengendara motor di pagi hari menjatuhkan kantongan berisi sampah le sungai mandar. belum lagi di malam hari. Hal ini mengindikasikan sungai ini telah fungsinya menanggung beban yang  teramat berat. Hewan saja yang tidak punya akal dari zaman prasejarah hingga pasca modern sekarang ini tidak pernah melakukan hal yang merusak keseimbangan alam, namun manusia yang berakal sanggup melakukannya. Siapa lagi...
Sisi lain, masyarakat Mandar masih memiliki kepercayaan bahwa sungai tersebut memiliki unsur supranatural yang hanya bisa dipercakapkan secara khusus. Cerita tentang manusia kembar dengan penguasa air, situs batu meanaq (batu berkembangbiak) berbagai pamali (pantangan) dan keampuhan sungai tersebut mengobati berbagai penyakit merupakan kjazanah tersendiri dan masih diyakini oleh masyarakat hingga saat ini. Sebuah cerita, ketika pengikisan daratan telah terjadi dibantaran sungai Mandar, batu besar satu persatu dihadirkan untuk menyapa sungai mandar, tiba-tiba tukang yang bekerja di sungai mandar terserang kejadian menyeramkan yang membuatnya terbaring sakit. Setelah ditelusuri ternyata salah satu batu yang diturunkan ke sungai mandar telah menutupi pintu rumah penghuni halus sungai tersebut. Dialog mistik dan diskusi indera keenampun dilakukan, pekerja tersebut mengiyakan dan memindahkan batu tersebut dan sehat seperti sedia kala. Boleh jadi penduduk asli inipun menggugat pemerintah dan masyarakat bukan hanya pada pekerja batu namun pada siapa saja yang mencoba melakukan pencemaran dan pengrusakan ekosistem sungai.
Sekiranya anak-anak  di Mandar khususnya bantaran sungai Mandar,  lebih suka memancing di dalam bilik kamar dan di sungai  4 dimensi dan memperoleh berbagai ikan imajinatif lewat aplikasi gadget, tablet, android dan lain-lain maka saat ini langkah preventif dan pelestarian terhadap “jiwa maritim dan budaya” generasi muda mandar merupakan tantangan sekaligus potensi yang perlu mendapat perhatian serius oleh pihak pemerintah dan paqbanua (masyarakat). Adakah kini, kita bisa mendapatkan seekor ikan di sungai Mandar ?? Biarlah masyarakat mandi sepuasnya tanpa harus menuruni tangga beton dari marmer serta hingar bingar lampu hias yang entah diperuntukkan untuk siapa atau anak kecil yang muncul disemak belukar mencari ikan dan udang-udang kecil dipinggir kanal tanpa harus diusik dengan terusik dengan hadirnya tembok tanggul setengah jadi, tempat muda mudi merajut asa dan menikmati mentari yang kembali ke peraduannya dan kehadiran pemadangan horor yang berhamburan dimana-mana. Kembalikan sungai mandar seperti sedia kala. Jantung sejarah, sumber kehidupan masyarakat dan tentunya milik untuk mereka yang memiliki kesadaran. Mari belajar dari air agar kita bisa menempatkan diri kapan menjadi cair, beku serta uap serta bermanfaat bagi alam semesta. Akulah sungai dan engkaulah  Mandar.
Sisi Sungai Mandar dengan pemandangan yang Asri, Sepa Batu Tinambung Polewali Mandar

 24 Feb 2015 Makassar                                                                                      
Gambar 1 lustrasi alat Transportasi Rakit dalam Buku Lontaraq Pattodioloang I
Gambar 2 Tiang Panggung Banrong Festival Sungai Mandar  2015 Tinambung, Maret 2015
Gambar 3 Perahu Nelayan di seberang Sepa Batu Tinambung Polewali Mandar, Maret 2015