MENELUSURI JEJAK YANG HILANG
(SEBUAH TESTIMONI TERHADAP
SUNGAI MANDAR)
 |
Raiq (rakit) dalam Buku
LontarakPattodiolong di Mandar 1
|
Sebuah
pesan datang dari negeri nun jauh disana
Ketika
elang pengelana menemukan benda terapung ditengah lautan
Disambarnya
dan dibawa ke hadapan raja
Wahai
cerdik pandai benda apa ini gerangan ?? tanya raja
Benda
ini adalah barakkaq persembahan paqbanua mandar yang diantarkan ke Sungai
Dari
mana engkau tahu bahwa benda ini datang dari tanah mandar !!!
Ampun
tuanku sekitar ratusan tahun yang silam, benda yang samapun pernah tertulis dalam
rekaman sejarah. Namun saya melihat ada sedikit yang lain, Sebab persembahan yang sampai disini ditutupi
rumput, ranting kayu dan banyak titik debu..
sungai
mandar TERCEMAR.....
Air
secara khusus Sungai merupakan suatu lingkungan yang erat hubungannya dengan
kehidupan manusia. Sehingga tidak heran, jika para pemikir mengambil unsur air
ini sebagai salah satu elemen yang menjadi unsur dasar yang mendukung kehidupan
manusia selain udara. Penelitian jejak prasejarahpun
menjadikan sungai sebagai salah satu rujukan untuk menelusri pola kehidupan
pada masa lalu. Demikian kuat posisi air dalam kehidupan manusia, sebuah
ungkapan menyampaikan, Anda bisa hidup
selama berminggu-minggu tanpa makanan namun anda tidak bisa bertahan hidup
beberapa saat saja tanpa air. Sungai, muara, teluk, laut samudera telah
memiliki peran yang signifikan. Selain mengandung keindahan, sejarah masuknya
peradaban pada sebuah tempat, Air memiliki kemampuan menjadi cair, beku bahkan
menjadi gas. Sebuah anugerah yang jarang dimiliki oleh unsur lainnya.
Era
1989 sampai 90an, bahkan mungkin sampai sekarang, SDN 001 dan 002 Tinambung, lapangan Tinambung,
dan Masjud al-Churiyah Tinambung merupakan pusat kegiatan lomba dalam merayakan
hari ulang tahun Republik Indonesia di lingkungan Kecamatan Tinambung. Pada
masa itu, seluruh peserta didik (murid) seantero Tinambung diberi kesempatan
untuk ikut bertanding atau hadir sebagai supporter di berbagai kegiatan yang
dilaksanakan. Ada cabang olahraga, cerdascermat, tari-tarian, pawai, gerak
jalan, shalat jama’ah, berkemah dan lain-lain.
Disela-sela
kegiatan itu berbekal Rp.100 rupiah mengelilingi pasar tinambung dan singgah
disalah satu pusat pertokoan yang menjual mata pancing. Meloa maalli peang puang (saya inign membeli matapancing puang )
untuk dipakai di sungai mandar dan sainci tasi. Sekedar informasi didepan
pertokoan pasar Tinambung merupakan tempat berkumpulnya puluhan kendaraan
tradisional, bendi (dokar) dari
berbagai penjuru. Dokar dari Kandemeng, Lamasariang, Karama, Lemosusu,
Limboro dan lain-lain. Sehingga tidak
heran aroma awang (dedak padi) dan
batang jagung khas makanan kuda merupakan atmosfir yang sangat familiar. Ada
juga konser paqbalu paoli (pejual
obat) dengan fans militannya, dihantam lagi dengan penjual kaset dengan tema
lagu lokal , Malaysia, Hongkong dan India
tentunya entah apa maknanya yang jelas booming
juga pada saat itu.
Mencari
appang (umpan) untuk memancing, ex pasar
ikan Tinambung merupakan opsi tunggal. Menelisik sisa potongan toppa (ikan tongkol)
atau udang kecil yang tercecer disela-sela bangku paoyobau (tukang potong ikan)
merupakan seni tersendiri. Tidak jarang pula merogoh kocek meski saya tahu
penjual ikan di Tinambung tidak akan mengambil uang kami, bahkan diberi appang
(umpan) gratis oleh penjual ikan. Mungkin wajah kami pada saat itu sangat dini atau boleh jadi penjual ikan tersebut
sementara mentransfer pendidikan karakter kepada kami melalui media dunia
nonformal.
G-spot memancing favorit terbagi dua. Pertama kolong jembatan matoa (tua) dekat tanggul dan pembuangan
sampah. Kedua adalah kolong jembatan
baru (dekat penjual ex Pasar Ikan
Tinambung) plus penjual nasi kuning dan jajanan kue tradisional. Selain
tempatnya teduh tidak perlu pula membuang mata pancing begitu jauh. Berkah dari potongan ikan tersebut kami
pernah mendapat berbagai ikan segar dengan
ukuran besar seperti samelang (sejenis ikan lele), buttal (ikan fugu), Lendrong
(sejenis belut). Jenis ikan paling mayoritas didapat yakni ikan kalairo. Ada pelajaran menarik yakni
selama saya ini memancing di rawa-rawa dengan kondisi arus tenang dengan
menggunakan sepotong bambu plus potongan sandal atau filter rokok sebagai pappaottong (pemberat). Ternyata ini
tidak berlaku di arus deras seperti di sungai mandar, sebab umpan akan mengapung dan ikan tidak
tergiur. Akhirnya mendapat kursus singkat dari pemancing lainnya, harus
menggunakan bahan berat. Sisa-sisa pecahan besi seperti paku, ring sekerup atau
sekerup jembatan yang rontok dan karatan merupakan alternatif pada saat itu.
Dan byurrr.. umpanpun siap disajikan didalam sungai.
 |
| Banrong Festival Sungai Mandar 2015 |
|
|
Di lokasi lain,
tepatnya di Teppo Desa Lembang-lembang
masih satu muara dengan sungai mandar, ikan kasisi/balanak dan udang yang biasa menghiasi kandoang (bakwan) sangat mudah didapatkan. Berbekal rakitan boco kenu (kelambu rusak) atau alat
lainnya, hanya butuh setengah jam, mamoko
(mencari ikan dengan cara manual dan alat seadanya) kita sudah bisa pulang
membawa setengah ember udang-udang kecil. Beberapa waktu juga ternyata sungai
ini merupakan tempat favoritnya anak-anak bantaran sungai menunjukkan
kebolehannya. Ada yang naik berlari di atas rangka jembatan pada saat
jalan-jalan subuh bulan Ramadhan dan paling ekstrim adalah loncat indah dari
jembatan ke dalam sungai. Mandi sore di bulan Ramadhan di sungai mandar
memiliki kesan tersendiri. Meski
sebagian penceramah setiap hari, menyampaikan bahwa hal tersebut hukumnya makruh
sebab air tersebut bisa masuk ketenggorokan via telinga, mulut atau hidung
namun “mungkin” karena jiwa kami masih anak-anak atau mungkin kami berasal dari
nutfah atau air kehidupan dan pernah mukim selama
berbulan-bulan dalam lingkunngan air di pagari kokohnya rahim seorang ibu,
penyampaian tersebut kami simpan dan menjadi khazanah tersendiri. Terkadang
perahu nelayan yang sementara parkir menjadi tempat sasaran take-on yang
menggiurkan. Tak ayal diri menjadi sasaran ceramah singkat dan pencerhan dari
pemilik perahu tersebut.
Meski
jarang didapatkan kasus masyarakat bantaran sungai mandar terserang
penyakit, stamina sungai mandar sebagai
fondasi kehidupan pada saat itu masuk dalam status mengkhawatirkan. Sadar atau
tidak, kegiatan keseharian mandi, mencuci, sikat gigi, buang air kecil,air
besar semuanya menjadi pemandangan yang yang sangat lazim. Kolong jembatan tua
merupakan tempat berkumpulnya sampah. Paling memilukan dan memalukan sampai
sekarang hal ini tetap berlanjut dengan kapasistas yang kurang lebih sama. Selain
menyandang gelar sebagai sungai legendaris dalam ketiak sejarah dan kehidupan
masyarakat mandar sungia tersebut juga menjadi kuburan massal yang tak bertepi,
tempat pembuangan awal (TPA) puluhan
jenis sampah, tempat bangkai hewan dari ukuran anak ayam sampai kuda setia mengalir
bersama najis lainnya. Masyarakat dan unsur pemerintahan masih mencari solusi
yang entah sampai kapan dan juga belum punya opsi lain yang tegas dan lebih
ramah lingkugan dalam mengelola sampah. Sekadar informasi penulis pernah
melihat pengendara motor di pagi hari menjatuhkan kantongan berisi sampah le sungai
mandar. belum lagi di malam hari. Hal ini mengindikasikan sungai ini telah
fungsinya menanggung beban yang teramat
berat. Hewan saja yang tidak punya akal dari zaman prasejarah hingga pasca
modern sekarang ini tidak pernah melakukan hal yang merusak keseimbangan alam,
namun manusia yang berakal sanggup melakukannya. Siapa lagi...
Sisi
lain, masyarakat Mandar masih memiliki kepercayaan bahwa sungai tersebut
memiliki unsur supranatural yang hanya bisa dipercakapkan secara khusus. Cerita
tentang manusia kembar dengan penguasa air, situs batu meanaq (batu berkembangbiak) berbagai pamali (pantangan) dan keampuhan sungai tersebut mengobati berbagai
penyakit merupakan kjazanah tersendiri dan masih diyakini oleh masyarakat
hingga saat ini. Sebuah cerita, ketika pengikisan daratan telah terjadi
dibantaran sungai Mandar, batu besar satu persatu dihadirkan untuk menyapa
sungai mandar, tiba-tiba tukang yang bekerja di sungai mandar terserang
kejadian menyeramkan yang membuatnya terbaring sakit. Setelah ditelusuri
ternyata salah satu batu yang diturunkan ke sungai mandar telah menutupi pintu
rumah penghuni halus sungai tersebut. Dialog mistik dan diskusi indera keenampun
dilakukan, pekerja tersebut mengiyakan dan memindahkan batu tersebut dan sehat
seperti sedia kala. Boleh jadi penduduk asli inipun menggugat pemerintah dan
masyarakat bukan hanya pada pekerja batu namun pada siapa saja yang mencoba
melakukan pencemaran dan pengrusakan ekosistem sungai.
Sekiranya anak-anak di Mandar khususnya bantaran sungai Mandar, lebih suka memancing di dalam bilik kamar dan
di sungai 4 dimensi dan memperoleh
berbagai ikan imajinatif lewat aplikasi gadget, tablet, android dan lain-lain
maka saat ini langkah preventif dan pelestarian terhadap “jiwa maritim dan
budaya” generasi muda mandar merupakan tantangan sekaligus potensi yang perlu
mendapat perhatian serius oleh pihak pemerintah dan paqbanua (masyarakat).
Adakah kini, kita bisa mendapatkan seekor ikan di sungai Mandar ?? Biarlah
masyarakat mandi sepuasnya tanpa harus menuruni tangga beton dari marmer serta hingar bingar lampu hias yang entah diperuntukkan untuk siapa atau
anak kecil yang muncul disemak belukar mencari ikan dan udang-udang kecil
dipinggir kanal tanpa harus diusik dengan terusik dengan hadirnya tembok tanggul
setengah jadi, tempat muda mudi merajut asa dan menikmati mentari yang kembali
ke peraduannya dan kehadiran pemadangan horor yang berhamburan dimana-mana. Kembalikan
sungai mandar seperti sedia kala. Jantung sejarah, sumber kehidupan masyarakat
dan tentunya milik untuk mereka yang memiliki kesadaran. Mari belajar dari air
agar kita bisa menempatkan diri kapan menjadi cair, beku serta uap serta bermanfaat
bagi alam semesta. Akulah sungai dan engkaulah Mandar.
 |
| Sisi Sungai Mandar dengan pemandangan yang Asri, Sepa Batu Tinambung Polewali Mandar |
24 Feb 2015 Makassar
Gambar 1 lustrasi alat Transportasi Rakit dalam
Buku Lontaraq Pattodioloang I
Gambar 2 Tiang Panggung Banrong Festival Sungai Mandar
2015 Tinambung, Maret 2015
Gambar 3 Perahu Nelayan di seberang Sepa Batu
Tinambung Polewali Mandar, Maret 2015