Sandeq Paniq Juara 1 Lomba
Layang-layang tingkat Nasional
(Ketika maha
karya dari Mandar terbang di langit
Banjarmasin)
|
J
|
auh dalam
rimbunan hikayat dan kisah peradaban ummat manusia, budaya dan berbagi tradisi
merupakan kondisi yang akan selalu mengiringi setiap lembaran kisahnya.
Sulawesi Barat dengan kondisi alam yang beragam laut, darat, pegunungan akan
melahirkan berbagai adat yang menggambarkan betapa eratnya genggaman lingkungan
tersebut dengan masyarakat Mandar.
Selain perahu sandeq yang cukup legendaris saat ini, ada juga maha
karya lain yang tidak kalah monumentalnya dan selalu menghiasi horizon Sulawesi Barat itulah
layang-layang. Layangan yang dimaksud adalah Sandeq paniq kerabat dari layang lake dan ada juga yang
menyebutnya layang bulan. Jenis layang-layang merupakan
beberapa permainan tradisional yang mudah didapatkan di Mandar.
Layang sandeq
paniq (sayap runcing) merupakan layang tradisional yang mampu terbang dalam
kondisi kecepatan angin beragam. Sedangkan lake memerlukan hembusan angin
dengan kecepatan cukup. Hal ini
disebabkan ukuran lake cukup kaiyyang
(bongsor) dan dipersenjatai dengan busor
(busur berdawai) yang mengeluarkan alunan suara khas. Keindahan lake terlihat pada ekornya yang memiliki corak (pata). Corak yang paling sederhana adalah pata teppas, pata cidzuq, bahkan sampai pata pohon beringin, dan berbagai pata lainnya. Bentangan sayap lake bisa mencapai 3 meter dan
ukuran ulunna (kepala) sampai lelok (ekor) mencapai 6 meter. Dengan kondisi demikian sangat memungkinkan lake sanggup mengudara 1 sampai 2 x 24 non stop.
Sedangkan
bentuk sandeq paniq ramping, bentangan
sayap lebar dan runcing dengan lelo’
(ekor) yang terurai.. Tahun 1989 sandeq
pani’ pernah mengudara dan bertarung dengan kontestan dari provinsi lain di
langit Banjarmasin. Menurut ungkapan seorang
peserta dari Matakali, sande paniq asal
Mandar, mewakili provinsi Sulawesi Selatan dalam kontes layang tradisional dan
menyabet juara satu sebagai layang-layang terbaik tingkat nasional pada saat
itu.
Hampir mirip dengan keikutsertaan sandeq ke Festival Maritim Brest Perancis
tahun 2011, sandeq paniq di rakit di
Banjarmasin dengan jumlah tim sebanyak 4 (empat) orang dengan keahlian
masing-masing dengan material dari Mandar.
Sandeq
pani’ mampu mencapai sudut terbang tegak 87 sampai dengan 95 derajat.
Kemampuan ini sangat jarang dimiliki oleh layang-layang di daerah lain. Bahkan
yang paling membuat terkesima para dewan juri, peserta dan penonton pada saat
itu adalah manuver meamanus-manus
(turun dengan ketinggian sangat rendah) dekat dengan permukaan laut sebab lokasi
kontesnya di pinggir pantai dan tiba-tiba mampu kembali menukik tinggi ke
udara. Kemampuan ini sangat identik dengan aksi manuver patukan kobra (manuver Pugachev's Cobra)
pesawat tempur mutakhir buatan Rusia SU-37 Terminator.
Alhasil 3 buah sandeq paniq iboyong keluar negeri oleh
seorang turis mancanegara. Kalau kontes seperti ini ini dilaksanakan di
Sulawesi Barat penulis yakin jumlah peserta akan membludak sebab mayoritas anak-anak
generasi muda maupun generasi yang lebih senior menggandrungi kegiatan
tersebut. Generasi dari sandeq pani’q masih mudah di dapatkan di langit Tonro Lima, Matakali, Tinambung dan berbagai daerah
di Mandar. Ketika festival berlau Sandeq paniq akan diistirahatkan di atas palpon rumah, sampai tiba saatnya untuk berlaga kembali. Kalau ingin menikmati dan melihat layang-layang tersebut
berkunjunglah ke Mandar pada bulan Agustus s.d. Nopember dan bawa kamera dan
handycam untuk mengabadikan momen-momen indah bersama layang-sandeq paniq lake, bulang, warisan dan berbagai
maha karya dari tanah mandar. (mq)


